LeluhurPandawa lan Kurawa (Bahasa Jawa) Cerita Wayang Leluhur Pandawa dan Kurawa dalam Bahasa Jawa - Ana sawatara versi crita bab sapa leluhure Pandawa lan Kurawa. Ana sing ngandharake yen iku Bharata, putrane Prabu Duswanta lan Dewi Sakhuntala. Mula, Pandawa lan Kurawa uga sinebut darah Bharata. Crita liya nyebutake yen kang nurunake iku
Demikiansilsilah singkat keluarga pandawa dan kurawa. Silsilah pandawa dalam bahasa jawa. Pandawa yang berasal dari bahasa sansekerta, yang berarti anak pandu dalam salah satu raja hastinapura mahabharata dengan putra mahkota dari kerajaan tersebut pulau jawa yaitu lima pangeran yudistira, menurut susastra yang terdapat dalam agama hindu
Nalikadadi muride Pandhita Durna, Pandhawa wis bisa ngatonake kepinteran lan keprigelane. Raden Arjuna prigel menthang gandhewa lan trampil migunakake keris. Raden Werkudara dhasar gagah prakosa kondhang kagungan sanjaya kuku Pancanaka lan gada rujak pala. Pandhawa katon luwih prigel keimbang murid liyane.
CeritaWayang Mahabarata Bahasa Jawa Lengkap April 13th, 2019 - Ingin tahu cerita wayang mahabarata bahasa jawa secara Karakter dan Nama nama Tokoh Kurawa Dalam Cerita Wayang Mahabharata Epos Mahabarata Sejarah yang terkubur atau Hanya Legenda Renungan Kebangsaan Akhir Kisah Sri Krishna Dan Pandawa April 21st, 2019 - Aktor" Luar Biasa
mahabarataversi jawa vitaliti integ ro, leluhur pandawa dan kurawa kisah mahabharata youtube, kisah mahabarata episode 1 ftik usm ac id, komik mahabarata lengkap pdf djlevy, mahabharata dan ramayana versi indonesia dalam perspektif, cerita wayang mahabarata lengkap sejarah filosofi dan, mahabharata sejarah dan budaya nusantara, jodha akbar bhs
Perangkeluarga Bharata atau Baratayudha adalah puncak dari perseteruan yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa. Semua ini bermula karena pihak Kurawa yang berambisi untuk menguasai Astinapura secara penuh kemudian melakukan segala cara untuk menyingkirkan Pandawa yang sebenarnya merupakan saudara mereka.
r66d. Destarastra adalah seorang kakak dari Pandu Dewanata. Desasatra memiliki kekurangan, yakni tidak dapat melihat. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi rasa hormat Pandu Dewanata kepada kakaknya tersebut. Karena saking hormatnya ia kepada kakaknya, Prabu Dewanata membawa 3 putri yang nantinya salah satu dari mereka akan dipersunting Destarastra. 3 putri tersebut yakni Dewi Kunthi, Dewi Madrim, Dewi Gendari. Akhirnya, Destarastra memilih Dewi Gendari untuk dijadikan istrinya. Dewi Gendari merasa kecewa. Seharusnya putri cantik sepertinya menjadi istri Pandu Dewanata, bukan Destarastra yang buta itu. Dalam hati ia bersumpah bahwa anak keturunannya dengan Destarastra tidak akan pernah akur dengan anak keturunan Pandu Dewanata. Tak lama, Dewi Gendari hamil. Namun, Destarastra merasa sangat bersedih hati, Kesedihan mereka disebabkan kandungan Dewi Gendari yang telah mencapai usia tiga tahun lamanya. Walau telah mencapai 1000 hari lebih, melampaui batas kenormalan usia hamil, akan tetapi belum juga ada tanda-tanda akan melahirkan si jabang bayi. Selama mengandung, angan-angan Dewi Gendari tak pernah lepas dari rasa dendam dan sakit hati kepada Pandu Dewanata. Ambisi untuk menumpas keturunan sang pandu sebagai pelampiasan dendam sakit hatinya selalu tak pernah lupa diucapkan dalam permohonan doa Dewi Gendari kepada dewata. Akan tetapi saat itu belum juga ada dampak terkabulnya doa permintaan isteri adipati negara Ngastinapura ini. Pagi, siang, sore hingga malam hari, hatinya senantiasa dirundung perasaan resah gelisah, gundah gulana. dan bahkan hampir putus asa, Mengingat antara apa yang menjadi cita-cita dendam hatinya, maupun ingat akan kandungannya yang telah melampaui kenormalan itu, sama sekali belum membawa hasil seperti apa yang diharapkannya. Pendek kata, selama masa kehamilan, Dewi Gendari tak pernah memiliki ketentraman di hati. Apalagi setelah mengetahui Dewi Kunthi, permaisuri Pandu telah melahirkan puteranya yang pertama, yang diberi nama Raden Puntadewa atau juga disebut Raden Wijakangka. bahkan Dewi Kunthi kini telah dan hampir melahirkan puteranya yang kedua. Kecemasan serta seribu satu macam perasaan gelisah dan tidak enak terkandung dalam hati Dewi Gendari ini semakin menjadi-jadi. Ketiadamenentuan perasaan hati Dewi Gendari yang sedang berbadan dua itu, mengakibatkan tubuhnya terasa gerah dan tidak betah tinggal dalam bangsal Kaputren. Dewi Gendari kemudian melangkahkan kakinya, dengan langkah-langkah gontai menuruni tangga pualam di bangsalnya menulusuri jalan setapak di antara hijaunya rerumputan, menuju ke taman sari kerajaan Ngastinapura yang luas dan asri, diikuti oleh empat orang emban sebagai abdi pengiringnya. Kala itu surya telah condong ke barat, saat Dewi Gendari beserta empat orang abdinya menulusuri jalan setapak yang terbuat dari pualam, diantara semerbak harum aneka bunga, serta rimbunnya pohon buah-buahan yang menghiasi taman kerajaan, gerbang-gerbang sebagai batas bagian-bagian taman yang luas itu, pandangan matanya yang sayu lurus memandang ke depan seakan-akan tak peduli dengan segala keindahan taman di sekelilingnya. Tak lama kemudian Dewi Gendari telah melalui gerbang taman yang ke tujuh dan merupakan bagian taman yang terakhir. Dalam bagian taman ini berisi aneka macam binatang buas maupun jinak serta beragam unggas sebaga hiasannya, tak ubahnya seperti isi kebun binatang layaknya namun tampat terawat bersih dan rapi. Di tengah petamanan margasatwa ini terdapat sebuah kolam besar yang terbuat dari batu pualam dengan dihiasi kelompok bunga teratai nan mekar dengan indahnya. ikan-ikan yang berwarna-warni berlari berpasangan berkejar-kejaran d bawah warna biru jernihnya air. tanpa sepengetahuan Dewi Gendari bahwa kedatangannya di taman satwa itu, telah membuat seluruh binatang buas yang ada di taman menjadi beringas, sementara binatang yang jinak serta unggas seperti gelisah dan ketakutan,semua ini merupakan firasat buruk. Hembusan angin keras membuyarkan lamunan Dewi Gendari, mengetahui cuaca buru, Dewi Gendari mengajak para emban kembali ke kaputren. Langkah Dewi Gendari semakin dipercepat karena renai gerimis telah mulai turun. Tiba tiba saja Dewi Gendari yang sedang mengandung ini tersentak kaget saat mendengar suara harimau mengaum begitu keras. Karena rasa kaget yang teramat sangat tubuh Dewi Gendari gemetar, wajah pucat, tak terasa Dewi Gendari telah melahirkan di tempat di mana ia berdiri, yaitu bebrapa jengkal sebelum mencapai gerbang kaputren tempat tinggalnya. Dewi Gendari bukan melahirkan bayi sehat dan mungil, melainkan adalah segumpal daging yang bercampur darah mengental, berwarna mrah kehitam-hitaman, daging yang baru lahir dari rahim Dewi Gendari itu bergerak-gerak serta berdenyut-denyut seakan-akan bernyawa. Setelah melihat dan mengetahui hal ini, bukan main marah Dewi Gendari, karena emosinya gumpalan daging itu diinjak injah hingga terpecah belah, lalu ditendang-tendang dengan kakinya ke arah yagn tak menentu, pecahan serta serpihan daging yang dilahirkan Dewi Gendari tercerai berai berserakan di atas rerumputan taman. Dewi Gendari merasa emosi, geram dan marah. Setelah itu ia pun menjerit dan mengangis histeris, lalu pingsan. Setelah itu ia lalu dibawa masuk ke Kaputren tempat kediamannya. Anehnya, setiap serpihan daging yang berserakan itu besar atau kecil tetap berdenyut dan bergerak-gerak. Atas nasehat Begawan Abiyasa yang telah datang secara gaib dari pertapaannya, meminta agar Destarasta memerintahkan para abddinya untuk menutupi setiap serpihan daging itu dengan daun jati. Dengan was-was serta perasaan takut yang tertahan, maka para emban serta beberapa orang prajurit penjaga taman melaksanakan tugas yang diperintahkan Destarasta, menutupi serpihan daging itu dengan daun jati, jumlahnya mencapai 100 keping. Bersamaan dengan kejadian itu, suasana taman di Ngastinapura berubah menjadi sangat menyeramkan. Binatang buas mengeluarkan suaranya, disusul dengan lolongan anjing hutan yang berkepanjangan bersahutan, burung hantu, kelelawar, burung gagak serta binatang malam lainnya. Binatang-binatang yang lelolong tak kunjung berhenti, suasana seram dan menakutkan meliputi Ngastinapura. Banyak para emban dan prajurit penjaga malam ketakutan, wajahnya pucat, badannya menggigil, merinding bulu romanya. Dewi Gendari yang telah siuman dari pingsannya turun dari tempat peraduannya menuju tempat pemujaan, ia memohon kepada dewa, agar cita-citanya untuk berputera banyak, bisa terkabul. tiba-tiba saja Batari Durga muncul secara gaib dan memberitahukan, apabila lewat tengah malam mendengar tangisan bayi di taman, Dewi Gendari agar cepat-cepat menghampiri bayi tsb, karena itu adalah puteranya. setelah memberikan pesan Batari Durgapun menghilang dari hadapan Dewi Gendari secara gaib, kembali ke kahyangan di wukir pidikan. Dan benar saja, saat terdengar tangisan, Dewi Gendari segera menuju ke taman. Dan betapa terkejutnya ia saat ia melihat ada 100 bayi di sana. Seluruh isi kerajaan bahagia mendengar berita tersebut. Para Korawa putera Dretarastra yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala atau Duççala atau Dussala. Dretarastra mempunyai anak dengan seorang wanita dari kasta waisya, yang dinamakan Yuyutsu dalam bahasa Sanskerta artinya ialah âyang memiliki kemauan untuk berperang/bertempurâ. Berbeda dengan para Korawa pada umumnya, ia tidak berbuat jahat pada para Pandawa, sepupunya. Saat perseteruan antara Pandawa dan Korawa sudah mencapai klimaks, dikeluarkanlah pengumuman untuk berperang. Yuyutsu bergabung di bawah panji-panji pasukan Korawa. Mereka berperang di Kurukshetra, India Utara. Sesaat sebelum perang di Kurukshetra dimulai, Yudistira â yang sulung di antara Pandawa â maju ke hadapan pasukan Korawa untuk memastikan apakah ada yang berubah pikiran dan mau berpihak kepadanya. Hanya Yuyutsu yang menanggapinya, sehingga ia keluar dari barisan pasukan Korawa dan bergabung dengan pasukan Pandawa. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sementara saudaranya yang lain gugur semua di medan perang Kurukshetra.
Sugeng Sonten Sedulur J, nderek langkung nggih⊠kula badhe mbabar cariyos wayang mahabarata ingkang irah-irahanipun Leluhur Pandawa Lan Kurawa. Pramila kaaturaken sugeng maos. Leluhur Pandawa Lan Kurawa Awal Kedadeanw saka ketemune antara raja Duswanta lan Sakuntala. raja Duswanta ngrupakne sawong raja gedhe saka kerajan Chandrawangsa karo ngrupakne turun saka Yayati, dheweke rabeni Sakuntala sakwise pertapaannya dhuwur kongkon saka Bagawan Kanwa sing banjur nduwe turun sang Bharata, sakwise kuwi, sang Bharata nduwe turun sang Hasti sing banjur nangi siji puser pamerentahan sing diwenehi jeneng karo Hastinapura. kabeh raja saka Hastinapura uga ngrupakne turun saka sang Hasti. saka keluarga Hastinapura kesebut, laira sang Kuru sing nyuwasani lan mensucikan siji daerah sing amba banget utawa sing dikenal karo Kurukshetra. jero dinasti Kuru, laira sang Pratipa sing dadi bapak saka prabu Santanu sing dikenal dadi leluhur saka para Pandawa lan Kurawa. Prabu Santanu dhewe ngrupakne sawong raja sing paling mahsyur saka garis turun sang Kuru sing asale saka Hastinapura. dheweke rabi karo dewi Gangga sing dikutuk kanggo mudhun menyang bumi, ning dewi Gangga mungkur sang prabu, amarga dheweke wis melanggar ujar raben. ning, hubungan raben saka prabu Santanu karo Dewi Gangga kesebut wis membuahkan 7 anak, ning kabeh anak kesebut ditenggelamkan menyang segara Gangga saka dewi Gangga karo alasan menawa kabeh anak kesebut wis kena kutukane. Nanging, anak sing nomer-7 bisa dislametake saka prabu Santanu lan banjur diwenehi jeneng karo Dewabrata. sakwise kedaden kesebut, akhire dewi Gangga mungkur prabu Santanu. sakwise Dewabrata beranjak dewasa, dheweke nglakoke supata bhishan pratigya supata kanggo membujang salawase lan ora arep marisi tahta bapake. dheweke nglakoke hal kesebut amarga ora pengen dheweke lan kabeh kemudhunane ngacek karo turun saka Satyawati, embok tiri saka Dewabrata. sakwise ditinggal lunga saka Dewi Gangga, akhire sang prabu dadi taun banjur, Prabu Santanu bali mbanjurke kuripan omah tangga karo rabeni putri nelayansing nduwe jeneng Dewi Satyawati. saka raben kesebut, dikaruniai loro wong anak yang sing diwenehi asma CitrÄnggada dan Wicitrawirya. lagekne sang Dewabrata/Bisma ngongkonke kanggo lunga menyang kerajanKasi kanggo meloni sayembara lan akhire dheweke nyenengna sayembarakesebut dadine dheweke kedadeyan mbisakne telu wong putri sing nduwe jeneng Ambalika, Amba lan Ambalika sing banjur digawa mulih kanggo dirabekne karo adhi-adhine Amarga CitrÄnggada wis seda, banjur Ambalika lan Ambika nikah Wicitrawirya, nalika Amba tresna Bisma, nanging Bisma gelem katresnan saka Amba amarga wis kaiket dening sumpah kang ora njaluk nikah kanggo umur. Marga saka usaha kanggo njaga Amba saka awake, kang sengaja catapults panah sing pungkasanipun nembus dodo Amba. Ing pati saka Amba, Bisma ing katresnan mangertĂ©ni sing liyawektu Amba bakal reincarnated dadi pangeran sing wis ciri feminin, yaiku anak Prabu Drupada jenenge Srikandi. Lan sedanipun mengko uga ing tangan Srikandi kang mbantu Arjuna ing perang gedhe arep ing Kurukshetra. CitrÄnggada donya ing umur enom ing perang, iku pungkasanipun digantĂškakĂ© dĂ©ning sedulurĂ© jenengĂ© Wicitrawirya minangka heir menyang dhampare prabu Santanu. Nanging, Wicitrawirya piyambak uga donya ing umur enom lan wis ora kagungan wektu kanggo njaluk nikah aken piyambak duwe turunane. Banjur dewi Satyawati ngirim garwa nomer kalihipun Wicitrawirya Ambika lan Ambalika supaya ketemu Rishi Vyasa, amarga panrimo bakal terus upacara kanggo wong-wong mau kanggo njaluk keturunane. Satyawati dewi Ambika dikirim menyang ketemu panrimo Vyasa ing kamar upacara. Sawise Ambika njaluk menyang kamar, weruh pasuryan saka Rishis padha supaya gedhe karo mata cahya murub. Mangkono nggawe Ambika nutup mata kang, kaya kang ditutup mripate kabĂšh upacara, bin Ambika lair karo mripat sing wuta lan anak Drestarastra. SawisĂ© iku, iku nguripake kanggo ngunjungi SAGE Vyasa Ambalika menyang bale upacara uga Ambika. Nanging iki marang supaya dheweke mata mbukak supaya anak ora bakal lair lamur minangka anak saka Ambika Drestarastra. Mulane, Ambalika supaya melĂšk nganti upacara iki liwat, nanging sawise tersebyt upacara kang dadi banget bulak amarga sajrone upacara kang durung nutup mata kang. Sesampunipun, lair Pandu putra Ambalika, sing rama Pandawa, lair bulak. Drestarastra lan Pandu uga wis setengah-cak jenenge Vidura. Vidura dadi anak saka Rishi Vyasa karo Ladies dijenengi Datri. Nanging, nalika upacara iki njupuk Panggonan kang Datri malah mlayu metu saka kamar amarga ana upacara kuat kanggo ndeleng pasuryan panrimo Vyasa wis mencorong kerasa lan pungkasanipun piyambakipun banget ambruk, supaya anak Vidura padha lair dening Datri duwe sikil risak / limp. Amarga Drestarastra lair karo mripat sing wuta, Mulane, tahta Hastinapura diwenehi kanggo Pandu. Banjur Pandu nikahi Kunti. SawisĂ© iku, Pandu nikah maneh karo dewi Madrim, nanging amarga kesalahan nalika mburu Pandu, dheweke Archery kidang padha nindakake katresnan. Rusa pungkasanipun disumpahi Pandu, sing bakal ora bisa maneh kanggo aran kabungahan sesambetan kakawinan, yen iya supaya, Pandu bakal ketemu marang pati. Sawise ipat-ipat Pandu, kidang pungkasanipun seda lan diganti wangun asli sawijining pandita. Sumber
Korawa atau Kaurawa Sansekerta à€à„à€°à€”; kaurava adalah kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata. Nama Korawa secara umum berarti âketurunan Kuruâ. Kuru adalah nama seorang Maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa. Jumlah mereka adalah seratus dan merupakan putra prabu Dretarastra yang buta dan permaisurinya, Dewi Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertianArti luas Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian sempit Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab ia merupakan keturunan yang tertua dalam garis keturunan Kuru. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para singkatDalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan seratus putera. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, puteranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang putera-putera Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putera Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di pertarungan ganas berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putera Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putera Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para KorawaBerikut ini nama-nama seratus Korawa yang dibedakan menjadi dua versi, versi India dan versi Indonesia. Kedua Korawa utama yaitu Suyodana alias Duryodana dan Dursasana disebut lebih dahulu. Kemudian yang lain disebut menurut urutan SuyodanaDursasana DuhsasanaAbaswaAdityaketuAlobhaAnadhresya HanyadresyaAnudhara HanudharaAnuradhaAnuwinda AnuwendaAparajitaAswaketuBahwasi BalakiBalawardanaBhagadatta BogadentaBimaBimabalaBimadewaBimarata BimarathaCarucitraCitradharmaCitrakalaCitraksaCitrakundaCitralaksyaCitranggaCitrasandaCitrasrayaCitrawarmanDharpasandhaDhreksetraDirgaromaDirghabahuDirghacitraDredhahastaDredhawarmanDredhayudaDretaparaDuhpradharsanaDuhsaDuhsahDurbalakiDurbharataDurdharsaDurmadaDurmarsanaDurmukhaDurwimocanaDuskarnaDusparajayaDuspramanaHayabahuJalasandhaJarasandaJayawikataKanakadhwajaKanakayuKarnaKawacinKrathana KratanaKundabhediKundadharaMahabahuMahacitraNandakaPandikundaPrabhataPramathiRodrakarma RudrakarmanSalaSamaSatwaSatyasandaSenaniSokartiSubahuSudatraSuddha KorawaSugramaSuhastaSukasanandaSulokacitraSurasaktiTandasrayaUgraUgrasenaUgrasrayiUgrayudhaUpacitraUpanandakaUrnanabaWedhaWicitrihatanaWikalaWikatananaWindaWirabahuWiradaWisaktiWiwitsu YuyutsuWyudoru WiyudarusIstimewaYuyutsu adalah putra Dretarastra dari seorang adalah adik perempuan Korawa. Ia satu-satunya wanita di antara para lainnyaPara Korawa putera Dretarastra yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, yaitu anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putra lagi bernama Duskampana dan seorang putri bernama Dursala atau Duççala atau Dussala
ï»żWayang sing paling digandrungi masyarakat iku lumrahe cerita kang megepokan karo serial Mahabarata. Sanadyan cerita Ramayana anane luwih dhisik nanging prayata kanggone wong jawa crita wayang Mahabarata katone luwih digandrungi. Bab iki kabuktekake kanthi anane paraga wayang utawa gambar wayang kang dipasang ing saben sing dipasang ingkana paraga cerita Mahabarata. Kaya mangkono iku nuduhake Manawa kang duwe omah pancen wis tepung lan nduweni tokoh kaya kang di idolakake LimaPandhawa iku cacahe ana lima, mula terus kaprah diarani Pandhawa Lima. Puntadewa ya Yudhistira minangka putra pambayun, watak ambeg darma lan nrima ing pandum sarta adoh ing hawa Werkudara ya Bima sena gedhe dhuwur lan gagah prakosa kang nomer loro, Raden Janaka ya Kumbang Ali-ali kang kondhang ngganthenge, prigel lan trampil manah minangka panengahe Pandhawa, dene Nakula Sadewa mujudake satriya kembar kang uga duwe watak utama, ambeg darma, lan luhur bebudene. Wiwit cilik mula wis katon luhuring budi,seneng tetulung, welas asih marang sapadha wong kang nandhang Puntadewa iku peparab liyane Yudhistira, Dwijakangka, Gunatalikrama, Darmakusuma, kratone manggon ing Ngamarta utawa Indraprasta. Panjenengane kagungan garwa Dewi Drupadi putra putrine Raden Drupada, ratu ing Negara Cempala utawa Pancala. Werkudara satriya ing Jodipati garwane aran Dewi Arimbi. Arjuna satriya ing Madukara garwane Dewi Sembadra lan Srikandi. Nakula Sadewa satriya ing Sawojajar. Cethane Pandhawa lima iku watak lan tindak tanduke kena kanggo tepa patuladhane para kawula mudha. Apamaneh kadigdayan lelimane mujudake satriya kang pilih dadi muride Pandhita Durna, Pandhawa wis bisa ngatonake kepinteran lan keprigelane. Raden Arjuna prigel menthang gandhewa lan trampil migunakake keris. Raden Werkudara dhasar gagah prakosa kondhang kagungan sanjaya kuku Pancanaka lan gada rujak pala. Pandhawa katon luwih prigel keimbang murid liyane. Ewasemana, ora tau lan pancen ora seneng pamer watake andhap asor lembah manah lan ngajeni marang lelakon kang dilakoni Pandhawa kasengsaran iku mau dituwuhake saka Kurawa kang kepingin nyirnakake Pandhawa. Wusanane kabeh kasangsaran iku bisa kasil kabengkas lan kuwat dilakoni. Beda banget karo Kurawa sing ora kuwat menawa dideleng ing antarane Pandhawa lan Kurawa iku isih kadang, sebab Pandhawa iku putrane Prabu Pandhudewanata. Sedenge Kurawa iku putrane Prabu Destrarastra. Prabu Pandhu Dewanata iku kaprenah adhine Prabu sebabe dene ing antarane kadang Pandhawa lan Kurawa ora bisa rukun? Iki amerga Dewi Gendari kepingin digarwa dening Prabu Pandhu Dewanata nanging kena apa kok malah diwenehake marang kangmase sing wuta iku ?. Mula banjur nibakake pangipat-ipat manawa besuk saturun-turunne bakal dadi mungsuh bebuyutan
Cerita Wayang Leluhur Pandawa dan Kurawa dalam Bahasa Jawa -Ana sawatara versi crita bab sapa leluhure Pandawa lan Kurawa. Ana sing ngandharake yen iku Bharata, putrane Prabu Duswanta lan Dewi Sakhuntala. Mula, Pandawa lan Kurawa uga sinebut darah Bharata. Crita liya nyebutake yen kang nurunake iku Bambang Bremani, putrane Bathara Brama kang dhaup karo Dewi Srihunon, putrane Bathara Wisnu. Bremani banjur peputra Bambang Parikenan lan Parikenan peputra Manumayasa. Manumayasa iku satriya linuwih, kinasihan ing Bathara Guru. Nalika semana ngarcapada, nadyan wis akeh manungsane, kahanane durung tumata. Mula Bathara Guru ngersakake mranata kahananing para titah iku. Banjur miji para dewa. Sang Hyang Kanekaputra matur yen ngarcapada kudu ana kang mimpin. Nanging sapa?. Miturut Bathara Kanekaputra, ora ana liya maneh kejaba ya mung Manumayasa iku. Bathara Guru sarujuk, nanging isih sumelang. Yen mung Manumayasa dhewe kang ditugasi, apa bakal bisa ngleksanakake jejibahane kanthi becik?. Sawise rembugan sawatara suwene, Bathara Guru lan Kanekaputra sarujuk ngutus Sang Hyang Ismaya melu tumurun marang ngarcapada ngancani Manumayasa. Resi Manumanasa Yen ana pewayangan, Bathara Ismaya kuwi jenenge sing luwih populer Semar. Maune uga salah sawijining dewa kang dedunung ing kahyangan. Wiwit dina kuwi Ismaya kadhawuhan tumurun ing ngarcapada kanthi tugas ngemong Manumayasa nganti saanak-turune besuk, amarga anak-turune Manumayasa iku wis dipesthekake dening jawata bakal dadi pemimpine para manungsa, pemimpin kang kudu njejegake kautaman. Supaya anak-turune Manumayasa tansah bisa lumaku ing garis kautaman, Ismaya kudu tlaten ngemong. Kudu tansah ngelikake yen ana kang arep nalisir saka bebener. Sabanjure Semar mapan ing Karangdhempel uga ana kang ngarani Klampis Ireng. Dene Manumayasa banjur yasa padhepokan ing Wukir Retawu. Semar kerep sowan menyang Retawu, prasasat meh saben dina. Sawise sawatara taun Manumayasa lan Ismaya manggon ana ngarcapada, Bathara Guru lan Bathara Narada bali ngrembug bab Manumayasa lan Ismaya. Pamanggihe Bathara Guru, Manumayasa kudu duwe sisihan supaya duwe keturunan kang besuk dadi pemimpine bangsa manungsa. Mula, wanita kang dadi sisihane Manumayasa iku aja mung sembarang wanita, ning kudu wanita sing duwe pribadi luhur, supaya bisa nurunake anak-anak kang uga becik pakartine. Bathara Guru lan Narada akhire sarujuk nurunake widadari kang duwe sipat ora mung darbe rupa sulistya, ning uga pribadi luhur lan pantes dadi sisihane Manumayasa lan Ismaya. Widadari kang diturunake yakuwi Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri. Nalika tumurun ing ngarcapada, kekarone memba rupa dadi macan. Nuju sawijining dina, Manumayasa didherekake Semar, mbebedhag sato ana ing alas. Dumadakan kepethuk macan loro kang lagi nggereng-nggereng sajak arep mangsa Manumayasa lan Semar. Manumayasa nuli ndudut jemparing loro pisan. Jemparing linepasake, ngenani macan sakloron, sanalika badhar dadi widadari. Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri banjur nyembah marang Manumayasa, lan matur yen kekarone kadhawuhan dening jawata tumurun ing ngarcapada. Gancaring carita, Dewi Kaniraras nuli kapundhut garwa dening Manumayasa. Dewi Kanastri dadi bojone Semar. Manumayasa apeputra loro, yakuwi Sekutrem lan Sriyati. Sekutrem nurunake para ratu Astina, kalebu Pandawa lan Kurawa. Sriyati nurunake para raja Mandaraka. Dene Semar, tetep dadi abdi kang setya. Semar duwe anak telu Gareng, Petruk, lan Bagong kang uga banjur melu dadi abdine para anak-turune Manumayasa. Nanging uga ana kang kandha, yen sejatine Gareng, Petruk, lan Bagong kuwi namung anak angkat.
cerita pandawa dan kurawa lengkap bahasa jawa